Jumat, 14 Juni 2013

cerpen_Haru no Sora

Haru no Sora (Langit Musim Semi)
Angin lembut musim semi terasa hangat di pipiku. Mentari mulai memancarkan sinarnya. Aku duduk di balkon rumahku dengan menggunakan seragam. Iya, seragam ini. Seragam yang membuatku bangga. Entah mengapa aku bangga dengan seragam ini. Sakura High School, sekolah khusus perempuan. Seragam ini berwarna pink dengan rok di atas lutut yang bermotif kotak-kotak berwarna putih, abu-abu dan hitam. Aku masih duduk di balkon rumahku ditemani secangkir teh hijau dan dengan pemandangan matahari terbit yang indah.
“Haru-chan, ibu berangkat kerja dulu ya” Seorang wanita cantik yang awet muda dengan senyumnya yang merekah indah di bibirnya memanggilku dan mulai mendekatiku, dengan senyum hangatnya yang membuatku tersenyum, aku pun mendekatinya dan memeluknya. “Okaa-san” Aku tenggelam dalam pelukannya sambil tersenyum. Ya! betul sekali, beliau adalah ibuku. “Kau ini, sudah besar masih saja seperti anak kecil ha ha” Ibuku tertawa sambil mencium keningku, aku hanya membalas dengan ulurkan lidahku dan ikut tertawa bersama ibuku. Dan ibuku berlalu begitu saja.
Pagi ini hari pertama aku masuk ke Sakura High School. Hari pertama, apa aku sudah mendapatkan teman? Hmm entahlah. Hari ini Oto-san tidak bisa mengantarku pergi ke sekolah. Tadi malam ayah pulang sangat larut, kasihan ayah, bekerja keras demi menghidupi ibuku, aku dan kembaranku.
Tentang kembaranku. Bisa di bilang dia itu kakak aku. Dia laki-laki, namanya Sora Watanabe sedangkan aku? Haru Watanabe. Kakak itu kakak yang baik, ga semua kakak bisa seperti dia dan bla bla bla. Aku sedang tidak ingin membahas tentang kebaikan dirinya. Aku sedang kesal dengannya, karena ia masuk ke Shounen High School yang hanya untuk laki-laki saja. Huh, akhirnya aku balas dendam kepadanya! Aku juga masuk sekolah khusus perempuan! Padahal aku ingin satu sekolah dengannya lagi, dari kami di taman bermain sampai kami masuk sekolah menengah kami selalu bersama dan masuk sekolah yang sama. Tapi mungkin ada sisi baiknya, dia bisa mempunyai teman banyak tanpa harus ada aku disisinya. Seperti yang lalu saat kami masih satu sekolah, dia tidak punya teman karena aku selalu mengancamnya jika dia tidak bersamaku di manapun. Aku hanya ingin selalu bersama dengan kembaranku, tapi aku baru sadar, memang tidak baik jika melarang orang untuk tidak berteman dengan siapa-siapa apalagi dia kakakku. Dulu ketika kami di sekolah dasar aku selalu memarahinya jika dia meninggalkanku, tapi mengapa dia tidak marah juga ya? Padahal aku selalu memarahinya, selalu manja kepadanya, kenapa? Hmm mungkin ini perasaan seorang kembaran dan seperti yang tadi aku bilang, dia itu kakak yang baik dan ga semua kakak sepertinya.
“Haru-san, Sora-san! Ayo berangkat!” Teriak Ojii-san dari parkiran di halaman depan rumah. “Matte ojii-san!” Teriakku dari balkon kamar.
Di dalam perjalanan menuju sekolah kami hanya terdiam tanpa sepatah kata sekalipun. Tiba-tiba Sora nii-chan membuka percakapan “Haru-chan, apa kau baik-baik saja?” Tanya Sora nii-chan kepadaku. Tapi aku sama sekali tidak menjawabnya dan hanya berlalu menatap ke arah jendela dan menikmati suasana pagi di kota Kyoto ini, sampai akhirnya ia memanggil nama lengkapku dengan nada yang cukup tinggi “WATANABE HARU-SAN, APA KAU BAIK-BAIK SAJA?” Aku pun kaget lalu menunduk dan membalas pertanyaannya. “Hai nii-san, aku baik-baik saja” dengan senyum yang kupaksakan aku tersenyum kepadanya lalu kembali menunduk. Mungkin ia merasa bersalah kepadaku lalu meminta maaf kepadaku “Gomen-ne, Haru-chan. Apa aku ada salah kepadamu?” Aku hanya menggeleng.
Sesampainya kami di Shonen High School, aku melihat di sana sama sekali tidak ada perempuan. “Haru-chan, aku pergi dulu ya. Jaga dirimu baik-baik, aku yakin kau akan dapat teman.” Ia mengacak-acak rambutku pelan sambil tertawa. Onii-chan membuka pintu mobil dan pamit kepadaku, seketika itu juga aku menahan lengannya untuk pergi. “Nii-chan, aku takut.” ia hanya tersenyum menatapku. Ia keluar dari mobil dan menuju ke arah gerbang sekolahannya, iya melambaikan tangannya kepadaku. Ketika ia akan memasuki gerbang akupun berlari sekencang-kencangnya dan memeluknya dari belakang. “Kakak, aku takut. Aku takut jika tidak ada kau disisiku, aku takut aku tidak punya teman. Aku takut kau melupakanku.” Ia membalikkan badannya dan memelukku “Haru-chan, kau tidak boleh seperti itu, pasti ada yang mau berteman denganmu, dan pasti aku tidak mungkin melupakanmu, karena kau adikku” Ia tersenyum dan berlutut kepadaku untuk mencoba melerai tangisku yang semakin menjadi-jadi. Dan akhirnya ia bisa membuatku tersenyum kembali, sampaiku sadari banyak mata yang sedang melihat ke arah kami. Aku pun langsung lari menuju mobil.
Hari ini hari yang sangat dramatis, adikku akhirnya jujur kepadaku tentang apa yang ia rasakan selama liburan ini. Huh, memang sakit untuk melepasnya, tapi inilah satu-satunya jalan untuk kami menuju masa depan yang lebih baik dan lebih mandiri. Bagaimana ya dia sekarang? Apakah dia mempunyai teman? Argh, mengapa sangat sulit untuk tidak terlalu over protektif kepadanya? Dia memang adikku! Dia memang kembaranku, tapi bukan berarti aku harus selalu melindunginya! Iya memang aku harus melindunginya tapi sama saja aku menghancurkan masa depannya jika terlalu over! Lalu bagaimana? Apa aku harus melepasnya begitu saja? Tapi itu sangat sulit untukku! Atau mungkin aku harus melepasnya pelan-pelan dan melindunginya diam-diam. Ah, benar! Itu cara terbaik!
“Melindungi orang yang kita cintai itu perasaan yang tidak bisa kita jelaskan, namun jika kita membiarkannya itu memang terlalu sakit. Usahakan jangan over bro” Suara seseorang terdengar jelas di telingaku, aku lihat ada seorang laki-laki berada di sampingku “Maaf, anda siapa ya?”. “Aku Kenta, kau Sora dari kelas 1-1 kan?” Jawabnya dengan tenang. Belum aku menjawab ia sudah berbicara kembali “Terkadang perasaan seorang adik dan kakak itu begitu kuat, sehingga kita susah untuk melepasnya pergi begitu saja, oh ya sedang apa kau berada di sini? Semua siswa pergi ke kantin setiap waktu istirahat dan kadang juga bermain basket di lapangan basket belakang dan jarang sekali ada yang berdiam diri di koridor seperti kau” Ia menatapku dengan tatapan tajam dan berlalu begitu saja dengan senyum liciknya. “Matte! Kenta-kun!” Ia menghentikan kakinya tanpa menoleh sedikit pun. “Haha, susah untukku jelaskan.” Aku pun mengikutinya dari belakang, ada yang aneh dari orang itu, mengapa dia bisa tau?.
Bell tanda masuk berbunyi dan aku melihatnya, Kenta! Ternyata dia teman satu kelasku, dia duduk di kursi paling belakang dalam barisanku. “Kenta-kun!” Aku berjalan mendekatinya sambil memanggilnya. “Ada apa?” Ia nampak berbeda, jika di kelas ia seperti tak peduli apapun, jika sedang berdua denganku mengapa dia punya imej yang mungkin tak sopan tapi baik. Entahlah apa yang harus kulakukan, aku ingin meminta nomor teleponnya dan belum sempat aku berbicara ia sudah memberiku kertas yang bertulisan nomor hp, “noomor siapa?” dengan wajah polosku aku bertanya kepadanya. “Kau ingin meminta nomor hpku kan? itu” Sambil menunjuk ke kertas tadi. Dan sekali lagi, Kenta! Kau membuatku menjadi seperti orang bodoh.
Tadi pagi itu sangat dramatis, aku terlalu manja kepada kakakku dan aku malu di lihat banyak laki-laki. “Huaaah rasanya ingin mati saja” di koridor yang sepi aku berteriak sekencang-kencangnya dan aku tak sadar sebetulnya ada orang di sampingku dari tadi. “Kau?” aku kaget dan dia tersenyum kepadaku. “Hai, namaku Aiko ~ Murakami Aiko. Senang berkenalan denganmu” Ia membungkuk 90 derajat kepadaku, aku hanya terdiam dan membisu. Dia bangkit lagi dan bertanya “Kenapa kau ingin mati?” dengan ketusnya aku menjawab “Tidak ada apa-apa” dan berlalu begitu saja. Tapi aku merasa bersalah, apa yang harus aku lakukan? Aku terlalu egois! Aiko maafkan aku!.
Waktunya pulang, aku sama sekali tidak memperdulikan teman-teman di kelasku. Aku langsung pergi begitu saja ketika bel penanda pulang berbunyi. Di depan gerbang aku lihat ada perempuan beramput panjang sepinggang dan di gerai, begitu indah. Sepertinya aku mengenalnya. Aiko? Aku langsung berlari ke arahnya dan ternyata benar, dia Aiko. “Aiko, aku minta maaf ya, tadi aku sedang kesal. Gomen” Aku membungkuk 90 derajat di hadapannya dan dia ikut membungkuk sebentar dan kembali mengangkat tubuhku untuk tegak. “Gapapa, oh ya siapa nama kamu?” aku kembali membungkuk “Watashiwa namae wa Watanabe Haru desu” aku menatapnya dan dia tersenyum padaku. “Watanabe Haru, nama yang indah” Aku pun tersenyum kepadanya “Arigatou ne”. “Watanabe Haru, arti namamu batas seberang musim semi? Indah sekali” “Murakami Aiko, kampung atas yang terkasih? Sangat indah.” Kami pun tertawa bersama-sama dan melupakan kejadian tadi, ternyata dia baik. Ia meninggalkanku kertas yang berisikan namanya, alamatnya dan nomor hpnya. Benar kata nii-chan. Aku pasti akan dapat teman dan aku bersyukur mendapat teman yang baik seperti Aiko.
Cerpen Karangan: Norwinda Ekasaptia Purnama


my opinions about this short story is the twin brother pobud definitely feel the pain if there is a definite feel of them as well. And there is a very interesting phrase. "Protecting the people we love the feeling that we can not explain, but if we let it was too painful." These words are very appropriate to protect what we think we want the people we love, but if it is too over will cause discomfort. For that protect the good way would be someone that would be comfortable.
Humans are social beings, and therefore we need each other, never afraid of not getting a friend because basically every man definitely needs a friend.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar